Rabu, 12 Oktober 2016
Hampir Putus Asa
Selasa, 22 Maret 2016
Jadi harus bagaimana
Bisa apa aku , yang tidak punya kemampuan apa apa.
Sehingga kemampuan untuk beradaptasi pun tak sanggup ku jalani.
Kemampuan untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya tak pun bisa ku tunjukkan.
Siapa yang salah disini? Apakah aku harus menyalahkan mereka ? Tentu bisa. Karena sebagian Dari mereka tidak bisa melihat secara objektif siapa aku. Aku tak mengatakan mereka malaikat yang tau segalanya tentang aku.
Apa kah aku harus menyalahkan Tuhan? Tuhan? Pendeskripsian Dia ada pada Alkitab dan dalam kehidupan sehari-hari yang kadang tak bisa ditebak bagaimana cara Tuhan menyampaikan nya di sela-sela kehidupan. Tuhan tak bisa kusalahkan. Bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan-NYA. Karena Dia, bukanlah pencipta sakit hati, bukan pencipta kekecewaan, Dia adalah penyembuhnya.
Akankah menyalahkan aku? Sebelum aku, kita bahas dulu si penjahat dunia. Iblis. Iblis adalah makhluk paling keji. Tak bisa dipungkiri lagi. Dia sangat licik. Licik, berharap dia bisa menguasai dunia dan menggantikan posisi Tuhan. Oh tidak akan, apakah dia pikir ada penggantian posisi layaknya penggantian raja di sebuah kerajaan? Tidak segampang itu ataupun tidak sesulit itu atau bahkan tidak keduanya. Karena tidak ada yang bisa menguasai dunia kecuali Tuhan.
AKU. Akulah yang dapat disalahkan.
Tak bisa kukendalikan kelicikan si iblis dengan segampang membalikkan telapak tangan. Karena aku bukanlah yang sempurna, begitu juga si iblis yang lebih tidak sempurna. Tapi dengan iman, dengan pertolongan Tuhan, semua hal buruk akan terkalahkan.
Aku yang dapat kalian salahkan. Karena aku, tidak bisa menyenangkan kalian. Aku hanya bisa membuat kalian sakit.
Diam, ketenangan, dan menyendiri akan bisa menimbulkan 2 hal. Yang pertama, itu akan membuat mu damai. Yang kedua, itu bisa membuat mu lebih sakit hati atas perbuatan duniawi yang kulakukan.
Dalam segala kegiatanku, terkadang aku tak bisa memfokuskan diri pada kegiatan itu. Sehingga pendengaranku kurang.
Terkadang, disaat aku sudah mulai fokus, hayalan yang tak berguna kembali melintas di pikiranku sehingga membuat aku hilang fokus.
Orang-orang yang selalu kupikirkan. Kupikirkan apakah aku telah menyakitinya? Apakah dia sakit hati ketika aku menyakitinya? Apakah dia membenciku? Apakah dia sudah memperhatikan kehidupannya?
Sungguh. Jarang aku memikirkan diriku sendiri. Kadang aku berpikir untuk tidak harus memikirkan mereka? Tunggu sebentar ! Apakah dengan itu aku disebut egois?

Apakah ini Sebuah Kisah

Senin, 21 Maret 2016
Kisahku yang Sekarang
Sekarang aku lagi berkuliah di Fakultas Hukum Udayana-Bali. Sekarang sedang menjalani 2 semester . Nih lagi sibuk-sibuknya UTS. Kali ini aku sendiri di kosan, biasanya berdua bareng kakak. Tapi kan kakak lagi ke luar negeri. Hmm... Iya kan aku sendiri. Menyangkut tentang kesendirian nih. Hahha sudah terlalu lama sendiri . Teringat sama perkataan sahabat waktu lalu. Dia bilang nya begini, kalau mau ngomongin tentang cowok , jangan pernah ngomong ke aku kalau kamu belum punya pacar . Wahh luar biasa sahabat ini. Yayaya gak apa apa. Mungkin bisa dijadikan motivasi. Aku bingung deh kenapa belum ada sampai sekarang. Sampai sampai sahabat ku bilang, apakah aku mati rasa? Oh tidak mungkin. Yahh bingung aja. Kenapa ya? Apakah karena aku jelek? Karena tidak ada lawan jenis yang menyukaiku? Atau emang karena hati ku yang belum terbuka? Mungkin pembaca aja gak tau hatiku terbuka atau enggak, gimana bisa, aku juga gak tau . Nah yang aku harapkan sekarang itu aku pengen ada seseorang lawan jenis yang spesial nan baik hati lah. Gak penting apa apa. Gak penting fisik, gak penting materi, yang penting itu kesadaran nya. Sadar bahwa dia sedang memilikiku. Sadar bahwa dia harus bertanggung jawab, harus tau apa yang akan dia lakukan terhadap kekasihnya. Sekian dulu lah mengenai kisah asmara ini. Yang sebenarnya aku galau kan sekarang adalah menyangkut masa depanku. Menyangkut pendidikanku. Gak mau tau dah. Aku harus coba testing lagi ke PTN yang nomor 1 di Indonesia itu loh. Gilaaaa... Aku cinta mati sama tuh UI. PTN no.1 di Indonesia bukanlah menjado alasan utama ku untuk daftar kesana. Tapi aku melihat anak anak bangsa yang banyak menghasilkan karya terbaik buat negeri nya. Di PTN itu mencetak banyak orang orang sukses. Memiliki sejarah yang tak akan pernah dilupakan. Yah teringat tentang peristiwa rengasdengklok ya. Yauda sekarang tentang perjuanganku agar mendapat satu bangku di Fakultas Hukum nya. OMG. I love faculty of law. Yap! Tau kenapa? Karena aku ingin lebih berkembang lagi. Disana aku akan berhadapan dengan calon calon orang besar. Aku serius. Cita cita ku adalah menjadi seorang pengacara . Pengacara yang memang benar benar pengacara. Tidak mata duitan. Aku ingin orang orang mendapatkan hak yang memang harus didapatkan oleh mereka. Jadi di bulan April 2016 aku akan sibuk belajar lagi buat persiapan testing ke PTN. Mengingat aku juga punya mata kuliah pada saat itu, yah aku harus pandai pandai mengatur waktuku. Dan semua semua semua yang aku lakukan tidak akan lupa ku sampaikan kepada Tuhan. Biar Dia yang handle semua. Biar kehendak-Nya lah yang terjadi . Aku menyerahkan semuanya kepada-Nya. Yang aku lakukan adalah bekerja sambil berdoa. Buat kalian yang membaca ini, jangan lupa berdoa, jangan lupa tetap bersyukur kepada Tuhan. Karena hanya Dialah satu satu nya penguasa hidupmu. Sekian. Tuhan berkati saudara sekalian.