Bisa apa aku , yang tidak punya kemampuan apa apa.
Sehingga kemampuan untuk beradaptasi pun tak sanggup ku jalani.
Kemampuan untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya tak pun bisa ku tunjukkan.
Siapa yang salah disini? Apakah aku harus menyalahkan mereka ? Tentu bisa. Karena sebagian Dari mereka tidak bisa melihat secara objektif siapa aku. Aku tak mengatakan mereka malaikat yang tau segalanya tentang aku.
Apa kah aku harus menyalahkan Tuhan? Tuhan? Pendeskripsian Dia ada pada Alkitab dan dalam kehidupan sehari-hari yang kadang tak bisa ditebak bagaimana cara Tuhan menyampaikan nya di sela-sela kehidupan. Tuhan tak bisa kusalahkan. Bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan-NYA. Karena Dia, bukanlah pencipta sakit hati, bukan pencipta kekecewaan, Dia adalah penyembuhnya.
Akankah menyalahkan aku? Sebelum aku, kita bahas dulu si penjahat dunia. Iblis. Iblis adalah makhluk paling keji. Tak bisa dipungkiri lagi. Dia sangat licik. Licik, berharap dia bisa menguasai dunia dan menggantikan posisi Tuhan. Oh tidak akan, apakah dia pikir ada penggantian posisi layaknya penggantian raja di sebuah kerajaan? Tidak segampang itu ataupun tidak sesulit itu atau bahkan tidak keduanya. Karena tidak ada yang bisa menguasai dunia kecuali Tuhan.
AKU. Akulah yang dapat disalahkan.
Tak bisa kukendalikan kelicikan si iblis dengan segampang membalikkan telapak tangan. Karena aku bukanlah yang sempurna, begitu juga si iblis yang lebih tidak sempurna. Tapi dengan iman, dengan pertolongan Tuhan, semua hal buruk akan terkalahkan.
Aku yang dapat kalian salahkan. Karena aku, tidak bisa menyenangkan kalian. Aku hanya bisa membuat kalian sakit.
Diam, ketenangan, dan menyendiri akan bisa menimbulkan 2 hal. Yang pertama, itu akan membuat mu damai. Yang kedua, itu bisa membuat mu lebih sakit hati atas perbuatan duniawi yang kulakukan.
Dalam segala kegiatanku, terkadang aku tak bisa memfokuskan diri pada kegiatan itu. Sehingga pendengaranku kurang.
Terkadang, disaat aku sudah mulai fokus, hayalan yang tak berguna kembali melintas di pikiranku sehingga membuat aku hilang fokus.
Orang-orang yang selalu kupikirkan. Kupikirkan apakah aku telah menyakitinya? Apakah dia sakit hati ketika aku menyakitinya? Apakah dia membenciku? Apakah dia sudah memperhatikan kehidupannya?
Sungguh. Jarang aku memikirkan diriku sendiri. Kadang aku berpikir untuk tidak harus memikirkan mereka? Tunggu sebentar ! Apakah dengan itu aku disebut egois?

Selasa, 22 Maret 2016
Jadi harus bagaimana
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar